Ketika
Hati Berbisik
Hati?
Sebuah bagian dari manusia yang sangatlah peka dengan apa yang sedang dihadapi
pemiliknya. Hati juga lah yang berbisik ketika kebingungan melanda. Tak ada
yang salah dengan hati. Hanya saja sedikit keteledoran yang menodai kesucian
hati.
Indah
Melissa,biasa dipanggil Indah. Perempuan yang rela berjuang dan berkorban demi
keluarganya diusianya yang sangat belia. Yaitu 17 tahun. Ia rela mengorbankan
kebahagiaannya demi membalas budi kepada kedua orang tua. Namun itu semua sirna
ketika ia harus kehilangan orang tuanya yang kembali ke pangkuan Sang Mahakuasa.
Penyesalan begitu dalam dirasakannya karena ia tak bisa membalas budi orang
tunya.
Berawal
ketika sang ayah harus di PHK dari tempat bekerjanya kemudian sang ibu lah yang
menjadi tulang punggung keluarga. Ketika itu usianya masih 13 tahun. Seiring berjalannya
waktu ia sadar akan keadaan keluarganya. Ia tak bisa terus-terusan mengandalkan
sang ibu. Ia sadar bahwa fisik ibunya tak lagi sekuat dulu untuk mengerjakan
tugasnya sebagai seorang buruh.
Tanpa
sepengetahuan orang tuanya,Indah sering mencari info mengenai beasiswa dan lowongan
pekerjaan. Sembari mencari,Indah yang saat ini kelas XII secara diam-diam juga
bekerja disebuah toko buku yang dulu sering ia kunjungi. Walaupun gajinya tak
seberapa namun menurutnya itu sudah cukup untuk membantu keadaan keluarganya.
***
Setelah
sekian lama menunggu kabar,akhirnya Indah mendapat kabar bahwa dirinya mendapat
beasiswa untuk sekolah di Singapura. Dengan hati yang berbunga-bunga Indah
berjalan secepat kilat untuk memberitahu kedua orang tuanya.
“Assalamuallaikum,ibu....ayah....
Indah dapat beasiswa” teriak Indah
“Beasiswa? Darimana kamu
nak dapat itu ?” tanya ibunya
“Maaf Indah lupa ngasih
tau ibu klo Indah pernah ngirim permintaan beasiswa” jawab Indah
“Wes toh bu”e,anak oleh
beasiswa kok ora disyukuri” ucap ayahnya.
“yo pak’e ibu bersyukur
kok. Kamu kapan berangkat ke Singapuranya?” jawab ibu
“Setelah Indah UNAS dan
lulus bu”jawab Indah
Hari
demi hari berlalu selama itu Indah terus mengasah dirinya untuk menghadapi
tantangan ketika ia berada di Singapura. Hingga pada akhirnya waktu yang ia
tunggu datang jua. Jumat,07 Juni 2010,dimana seorang Indah Melissa menerima
penghargaan sebagai siswa peraih nilai UN tertinggi se-Kabupaten. Dengan bangga
kedua orang tuanya berdiri disamping anaknya membanggakannya.
***
Hari
itu semua persyaratan telah terlengkapi. Lusa Indah akan pergi ke Singapura.
Dengan persiapan yang matang. Akhirnya hari itu,10 Juli 2010 Indah berangkat
menuju Singapura.Senyuman dan doa dari kedua orang tuanya mengiringi keberangkatan
Indah. Dalam hatinya,ia berjanji akan selalu membuat senyum itu selalu terlukis
dari kedua orang tuanya.
***
Tak
terasa hampir setahun Indah berada di Singapura. Selama itu pula Indah tak
pernah lupa untuk memberi kabar dan mengirim sedikit rezekinya kepada keluarga
yang sangat ia sayangi.Hingga pada suatu ketika Indah khilaf dan melupakan
tujuan awalnya. Ketika ia mengenal sosok laki-laki yang juga orang Indonesia
dan teman kuliahnya.Sebut saja Angga Darmawan. Setelah Indah mengenal sosok
itu,kepribadian Indah seakan berubah 180o. Indah lebih sering
menghabiskan waktunya bersama Angga. Hingga suatu saat ketika Indah mendapati
sebuah surat dari keluarganya di bawah meja belajarnya. Namun surat itu
bertanggalkan 2 minggu yang lalu.
“Dari : Ibu Samianingsih
Ds. Sumber Anom
09/XII
Jati Waringin
Pacitan Jawa Timur
Indonesia
Assalamualaikum Indah.
Apa
kabar nak kamu? Di sini ibu dan ayah serta adikmu sangat merindukan mu. Kamu
sibuk ya nak? Sampai-sampai kamu tak pernah mengabari kami selama 2 bulan ini.
Indah ayah dan ibu selalu mendoakan yang terbaik buat kamu sayang. Ibu tak
henti-hentinya selalu berdoa untuk kesuksesan mu. Tujuan ibu mengirim surat ini
adalah ibu dan ayah minta maaf kalau selama ini ibu dan ayah punya salah. Dan ibu
mau bilang kalau ibu sangat menyayangi kamu Indah.
Indah,jaga
dirimu baik-baik ya nak. Jika nantinya ibu dan ayah tlah tiada,ibu minta tolong
jaga dirimu dan adikmu,Andha. Ibu dan ayah sayang kamu INDAH
Pacitan,12 April
2012
Ibumu
Samianingsih
Indah
merasa bahwa surat dari ibunya sangatlah berbeda dengan surat yang selama ini
dikirimkan ibunya kepadanya. Jelas saja karena itu merupakan surat terakhir
yang dikirimkan ibunya sebelum ibu dan ayahnnya pergi untuk selama-selamanya. Setelah
ia mendapat kabar tersebut,Indah terkulai lemas dan airmatanya tak
henti-hentinya membasahi pipinya. Ia merasa sangat menyesal karena dalam 2
bulan ini ia tak pernah memperdulikan keluarganya. Ia lupa akan janjinya
terhadap hatinya jika ia akan selalu membuat kedua orang tuanya tersenyum
bahagia. Namun semua sudah terlambat tak ada yang bisa diulang kembali. Kini tugasnya
hanya menjaga satu-satunya keuarga yang masih ia miliki. Adiknya Andhadiana
yang kini tinggal bersama neneknya.
Kini
ia harus berjuang hidup untuk adiknya. Tak ada kata lain bagi Indah selain
mendengarkan hatinya. Karena ia tahu bahwa hatinya lah yang akan membawa
Indah,Andhadiana,Ibu,serta ayahnya kembali berkumpul dalam kehidupan abadi.
**Ifttitah Tazkiyah
**Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam cerpen ini.
Karena KESEMPURNAAN hanya milik ALLAH SWT**
0 komentar:
Posting Komentar